Citra Indonesia
Citra Indonesia
Jakarta, KompasKekuatan citra Indonesia saat ini lebih rendah dibandingkan dengan beberapa negara lain. Rata-rata nilai kekuatan citra di bidang perdagangan, investasi, dan pariwisata di bawah rata-rata internasional.

Hal ini terjadi karena kekuatan dan potensi yang ada belum terkelola dengan baik.

Di bidang perdagangan dan investasi, kekuatan citra Indonesia 6,4 persen dari 16 negara yang diriset. Angka ini di bawah angka rata-rata negara lain yang diriset, dengan nilai 7,7 persen. Sementara, kekuatan citra Indonesia di bidang pariwisata memiliki angka 5,2 persen, lebih rendah dari rata-rata kekuatan citra pariwisata negara-negara lain, yaitu 7,7 persen.

"Riset ini adalah pijakan awal untuk melakukan agenda yang tak ada batas waktunya. Semua hal yang menyangkut persepsi negatif perlu segera diperbaiki sebelum citra bangsa ini diluncurkan," kata Denni Puspa Purbasari, Deputi Bidang Kajian dan Pengelolaan Isu-isu Ekonomi Strategis Kantor Staf Presiden, Senin (13/2), di Kantor Staf Presiden, Jakarta.

Denni memaparkan, riset tentang citra bangsa ini melibatkan masyarakat dari berbagai latar belakang, antara lain pengunjung, pedagang, dan investor internasional. Sementara dari dalam negeri, riset melibatkan tokoh masyarakat, penerima manfaat investasi, eksportir, pejabat negara, dan masyarakat umum.

"Untuk mengetahui kekuatan kita, perlu melihat persepsi positif dan negatif orang lain terhadap negara kita," kata Denni.

Pemerintah menyadari kekuatan citra Indonesia yang saat ini masih lemah. Oleh karena itu, pemerintah menggelar survei di 16 negara pada akhir September-akhir Desember 2016. Survei perusahaan multinasional dengan nilai kontrak Rp 14,275 miliar. Adapun elemen riset yang dimaksud berupa survei dalam jaringan dan tatap muka 7.610 responden di 16 negara. Di Indonesia, survei dilakukan di 40 kabupaten/kota dengan 2.150 responden.

Di bidang perdagangan dan investasi, dari seluruh responden, hanya 26 persen yang melakukan kegiatan dagang dan investasi di Indonesia. Indonesia dikenal memiliki kekuatan ekonomi, sumber daya alam, serta produk kerajinan tangan. Namun, Indonesia belum dikenal sebagai negara dengan teknologi tinggi, memiliki sumber daya manusia kompeten, serta terbuka terhadap orang asing.

Di bidang pariwisata, misalnya, dari seluruh pengunjung internasional yang ditanya, hanya 5 persen yang rutin mengunjungi Indonesia. Persepsi responden dalam hal warisan sejarah, kuliner lokal, dan penyambutan terhadap orang asing masih belum bagus. Di sektor ini posisi Indonesia di bawah Thailand, India, Vietnam, dan Kamboja. Adapun kekuatan Indonesia di mata pengunjung internasional berupa keindahan alam, budaya, dan kehangatan orangnya.

Kekuatan citra negara dilihat dari tiga elemen utama, yaitu bermakna, berbeda, dan cepat diingat.

Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengatakan, pemerintah sudah mengetahui keinginan pasar terhadap Indonesia. Persoalan yang dihadapi saat ini, pemerintah harus dapat mengemas potensi-potensi yang ada.

"Kita, tidak bisa tidak, harus memadukan keinginan kepentingan nasional dan kehendak pasar," kata Rudiantara. (NDY)

Kompas