jurnas.com
jurnas.com
Karang Penghalang Besar atau yang dikenal dengan The Great Barrier Reef terancam mengalami kerusakan (atau disebut dengan pemutihan karang), setelah terkena dampak perubahan iklim yang tidak menentu. Tak hanya Karang Penghalang Besar yang mengalami hal tersebut, berdasarkan riset ilmuwan kelautan, 99 persen terumbu karang dunia saat ini sedang menuju kerusakan serupa, lebih cepat dari perkiraan.

Akibat perubahan iklim, lautan mengalami kenaikan suhu yang memicu matinya aneka ganggang yang hidup di sekitar karang. Kematian ganggang menyebabkan kerusakan di sejumlah jaringan karang, dan mengakibatkan terjadinya pemutihan.

Adapun pemutihan karang merupakan perubahan warna pada jaringan karang, dari kecoklat-coklatan atau kehijau-hijauan, yang menjadi indikator karang aktif, menjadi warna putih pucat. Karang mati berwarna putih, banyak ditemui di pinggiran laut, dan digunakan sebagai hiasan rumah.

Peneliti memperkirakan terumbu karang di seluruh dunia akan mengalami siklus pemutihan terparah pada tahun 2050-an. Kematian karang disebut-sebut dapat mengancam keberadaan ekosistem laut lainnya, dan membunuh berbagai organisme kecil.

Dikutip dari Engadget, ilmuwan menyerukan agar ancaman perubahan iklim dapat segera ditindaklanjuti melalui kebijakan strategis, yakni penghijauan, pengurangan gas emisi, dan lain sebagainya.

Karang Penghalang Besar (KPB) adalah kumpulan terumbu karang terbesar di dunia, yang membentang sepanjang 2.600 kilometer di Laut Koral, lepas pantai Queensland Australia. Great Barrier Reef terdiri dari lebih 3.000 karang, dan 900 pulau.

jurnas.com