jurnalbumi.com
jurnalbumi.com
Pemerintah sedang mengumpulkan data untuk mencari pola teknik berladang tanpa membakar untuk petani tradisional. Petani berharap hal itu menjadi solusi dari larangan membakar yang membuat mereka hingga saat ini tak kunjung menanam padi.

"Kami masih kebingungan. Kalau dilarang membakar, lalu kami harus bagaimana? Untuk mengolah ladang tanpa membakar, kami harus mengeluarkan modal yang besar," kata Yansiah (46), warga Mantangai, Kabupaten Kapuas, di sela-sela kunjungan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar, Sabtu (8/10).

Yansiah merupakan salah satu petani ladang di Kalimantan Tengah yang sampai saat ini belum menanam karena takut ditangkap aparat keamanan. Hal itu merujuk pada pidana bagi pembakar lahan melalui UU Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, UU Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, dan UU Nomor 39 Tahun 2014 tentang Perkebunan.

Namun, tak semua petani takut karena tak sedikit di antara mereka yang membakar lahan karena terdesak kebutuhan. "Kalau kami sudah terdesak, kami tetap membakar," ujar Yansiah.

Siti mengemukakan, pihaknya terus mengumpulkan data terkait masalah yang dihadapi petani ladang dan teknik berladang tanpa membakar. Data itu akan dibahas bersama dalam rapat bersama Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan di Jakarta.

Dalam kunjungannya, Siti melihat kebun milik Akhmad Tamanuruddin (62) di Kalampangan, Palangkaraya, dan perhutanan sosial Jumpun Pambelom di Pulang Pisau milik Januminro.

Inovasi

Akhmad Tamanuruddin adalah guru yang juga petani. Di lahan 2 hektar miliknya, Taman menanam berbagai macam jenis tanaman. Salah satu yang paling menguntungkan adalah jelutung yang sudah berusia 12 tahun.

"Pengolahan tanpa membakar bisa dilakukan meskipun di gambut yang dalam. Hanya memang membutuhkan kerja keras," ujar Taman, sapaan akrabnya.

Taman menggunakan alat untuk mengelola lahan gambut. Saat ini ia menghasilkan Rp 5 juta dari pohon jelutung tersebut. "Jelutung punya banyak manfaat, selain bisa diambil getahnya, buah dan kayunya pun dicari orang," kata Taman.

Kepala Badan Restorasi Gambut (BRG) Nazir Foead mengatakan, upaya yang dilakukan Taman adalah bentuk restorasi gambut. Terdapat tiga strategi yang dilakukan BRG untuk merestorasi, yakni pembasahan, pembibitan, dan revitalisasi.

Gubernur Kalteng Sugianto Sabran sangat mendukung upaya masyarakat dalam pengelolaan lahan dengan teknik pembukaan lahan tanpa bakar. Ia juga berjanji akan memfasilitasi dan memberikan dukungan material kepada warga yang berani berinovasi dan keluar dari masalah membakar lahan.

Terkait dengan kebakaran hutan dan lahan, Koordinator Gerakan Anti Asap Kalteng Aryo Nugroho, Minggu (9/10), menilai, penegakan hukum pada kasus kebakaran lahan dinilai timpang. Dari sejumlah perusahaan di Kalteng yang diproses pemerintah dan kepolisian, baru satu perusahaan yang divonis bersalah. Padahal, sejak 2014 terdapat 201 petani yang menjadi tersangka pembakar lahan.

Dari Padang, Sumatera Barat, dilaporkan, pemadaman kebakaran hutan konservasi di kawasan Lembah Harau, Kabupaten Limapuluh Kota, hingga Minggu masih berlangsung. Pemadaman dilakukan menggunakan satu helikopter pengeboman air karena sulitnya menjangkau titik api melalui jalur darat.

Menurut Kepala Bidang Pengamanan dan Perlindungan Hutan Dinas Kehutanan Sumbar Faridil Asrasi, di Limapuluh Kota ada enam titik api dengan kawasan yang terbakar sekitar 40 hektar.

(IDO/DKA/ZAK)

Kompas