Tangerang Selatan: Mengejar Pembangunan Infrastruktur

Written By Transformasi Category Perkotaan

kompasKota Tangerang Selatan yang baru berusia tujuh tahun mengejar pembangunan infrastruktur seiring makin tingginya jumlah penduduk. Pembangunan jalan, jembatan layang, terminal, dan transportasi massal mendesak untuk mempermudah mobilitas warga.
Proses pembetonan Jalan Siliwangi, Jumat (15/4), masih juga belum tuntas. Masih ada beberapa titik yang belum dicor sehingga kendaraan terpaksa berjalan perlahan untuk turun dari beton ke jalan yang lebih rendah. Sebagian ruas menyempit sehingga menyebabkan antrean dan membahayakan, terutama bagi pengendara sepeda motor karena rawan tersenggol dan jatuh.

Di jalan ini pula dapat dilihat tiang-tiang listrik berdiri di tengah badan jalan. Tiang-tiang listrik ini belum digeser sekalipun jalan sudah dilebarkan. Padahal, jalan ini merupakan salah satu jalan utama di Kota Tangerang Selatan yang membentang dari Universitas Pamulang ke arah Jalan Puspitek Raya.

Wali Kota Tangerang Selatan Airin Rachmi Diany mengatakan, status jalan itu adalah jalan provinsi sehingga pembangunannya merupakan kewenangan Pemerintah Provinsi Banten. "Namun, kami terus mendorong agar pembangunan jalan itu cepat diselesaikan, termasuk meneruskan pelebaran jalan hingga Jalan Puspitek Raya," katanya.

Kepala Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air Kota Tangerang Selatan Retno Prawati mengatakan, pelebaran jalan di sejumlah lokasi masih menjadi prioritas. Masih banyak jalan sempit sehingga memicu kemacetan.

Beberapa jalan yang sudah dibuat lebar adalah Jalan Ciater Raya yang menjadi percontohan bagi pembangunan jalan di lokasi lain. Masih banyak jalan yang lebarnya hanya 6-8 meter, kemudian tidak ada trotoar di kanan dan kiri jalan untuk para pejalan kaki.

Selain itu, persimpangan jalan juga akan ditata. Beberapa persimpangan yang kerap menimbulkan kemacetan parah adalah Simpang Gaplek, Simpang Pasar Serpong, dan Simpang Sudimara. Ketiganya akan diatasi dengan membangun jalan layang.

Simpang Gaplek saat ini dalam proses pembebasan lahan yang mencapai 80 persen. Sementara pembangunan jalan layang pada Simpang Pasar Serpong dan Simpang Sudimara menjadi program Pemprov Banten.

Pemkot Tangsel tahun 2016 menganggarkan dana sebesar Rp 400 miliar untuk bina marga dan sumber daya air, sekitar 13 persen dari total APBD Tangsel sebesar Rp 3 triliun. Dana itu antara lain digunakan untuk membenahi jalan-jalan kota yang panjangnya 405.600 kilometer di tujuh kecamatan, serta mengurangi titik rawan banjir.

Tangsel memiliki sembilan situ yang berfungsi sebagai pengendali banjir, yaitu Situ Rompong, Situ Kayu Antap, Situ Bungur, Situ Legoso, Situ Parigi, Situ Ciledug, Situ Pamulang, Situ Gintung, dan Situ Pondok Jagung. Namun, Situ Gintung telah menjadi bendungan dan Situ Kayu Antap sudah jadi permukiman.

Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung-Cisadane telah memulai revitalisasi situ-situ tersebut sejak tahun 2015. Revitalisasi masih berjalan pada Situ Pamulang dan Situ Pondok Jagung yang direncanakan selain mengembalikan fungsinya sebagai pengendali banjir juga menjadi area wisata bagi warga. Selain itu, tandon-tandon air dibuat untuk mengganti lahan serapan yang hilang akibat pembangunan perumahan. Tandon yang telah dibangun dan mulai berfungsi adalah Tandon Ciater.
Tawarkan ke swasta

Dengan banyaknya warga Tangsel yang bekerja di Jakarta, transportasi massal di Tangsel masih sangat minim. Jumlah penumpang KRL arah Serpong terus meningkat dari tahun ke tahun. Data dari PT KAI Commuter Jabodetabek menunjukkan, penumpang jurusan Serpong menyumbang 11,87 persen dari total jumlah penumpang per hari yang 737.037 orang (Kompas, 29 Desember 2015).

Namun, belum ada angkutan pengumpan yang memadai yang menghubungkan lima stasiun yang ada di Tangsel ke berbagai wilayah. Penumpang KRL kebanyakan memilih memarkir kendaraan mereka di stasiun, selain naik angkutan umum atau ojek. Akibatnya, kerap terjadi kemacetan di stasiun karena menumpuknya kendaraan.

Kepala Dinas Perhubungan, Komunikasi, dan Informatika Tangsel Sukanta mengatakan, Pemkot Tangsel telah merangcang angkutan Trans Anggrek Circle Line, bus pengumpan yang akan mengitari lima stasiun di Tangsel, yaitu Serpong, Rawa Buntu, Sudimara, Jurang Mangu, dan Pondok Ranji.

Sejauh ini, baru ada lima bus Trans Anggrek yang dioperasikan sebagai uji coba. Trans Anggrek ini melayani koridor dua yang melintas dari Pondok Cabe ke Stasiun Rawa Buntu. Namun, Trans Anggrek hanya beroperasi pada pukul 06.00-09.00, 11.00-14.00, dan 16.00-18.00.

Minimnya angkutan bus terlihat di Terminal Pondok Cabe yang dalam proses revitalisasi. FX Sadino dari PO Gunung Mulia mengatakan, hanya ada bus antarkota antarprovinsi di terminal itu yang selama ini beroperasi. Bus kota yang beroperasi selama ini hanya Trans Anggrek, itu pun sangat terbatas.

Namun, Pemkot Tangsel tidak menganggarkan secara khusus untuk pengembangan transportasi massal. Airin mengatakan, Pemkot Tangsel menawarkan kepada investor untuk pengembangan Trans Anggrek Circle Line karena pemkot tidak mampu jika harus menanggung semua kebutuhan itu sendirian.

Airin mengatakan, ke depan, ia berharap pembangunan kereta ringan (LRT) yang seharusnya berakhir di Lebak Bulus bisa diteruskan hingga Pamulang.

Djaka Badranaya, pengajar Studi Pembangunan Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, mengatakan, infrastruktur tetap harus menjadi prioritas, terutama pengembangan transportasi publik serta kebutuhan dasar, seperti akses air bersih dan penyaluran gas ke rumah tangga. Akan tetapi, kapasitas sumber daya manusia di pemerintahan ataupun warga juga harus ditingkatkan.

"Yang dibutuhkan Tangsel tidak hanya fisik, tetapi pembenahan sistem, model pelayanan publik yang cepat dan efektif, serta reformasi birokrasi yang konkret," kata Djaka. (PIN/UTI)

 

 

Kompas