UMUM

bps-statistik
bps-statistik
JAKARTA - Badan Pusat Statistik mencatat sebanyak 7,24 juta orang berstatus pengangguran karena belum tertampung oleh pasar kerja. "Jumlah pengangguran ini naik sekitar 90 ribu orang atau 1,2 persen dibandingkan Februari 2014," ujar Kepala BPS Suryamin di kantornya, kemarin.


Namun, bila dibandingkan dengan data Agustus 2013, jumlah ini turun sekitar 2,2 persen atau 170 ribu orang. Penurunan jumlah pengangguran ini, menurut Suryamin, dipicu oleh pengaruh musim.
Suryamin mencontohkan per Februari, biasanya merupakan musim tanam, sehingga sektor pertanian akan banyak menyerap tenaga kerja. Sementara Agustus adalah masa-masa kelulusan di berbagai tingkat pendidikan sehingga, pada bulan tersebut, angka pengangguran relatif lebih tinggi karena tak semua lulusan cepat mendapat pekerjaan. "Jadi pengangguran pada Agustus memang cenderung lebih tinggi dibanding Februari," katanya.
BPS kemarin juga merilis tingkat pengangguran terbuka per Agustus 2014 mencapai 5,94 persen atau naik dibanding pada Februari lalu, yang sebesar 5,7 persen. Tingkat pengangguran terbuka ini sering kali dijadikan acuan pemerintah dalam membuka lapangan kerja baru. Indikator ini menunjukkan keberhasilan program ketenagakerjaan dari tahun ke tahun.


Namun, Direktur Institute for Development of Economic and Finance, Enny Sri Hartati, menilai pemerintah tidak bisa lantas berpuas diri karena penurunan tingkat pengangguran terbuka tersebut. Sebab, jika didefinisikan dengan kriteria Organisasi Buruh Internasional (ILO), tingkat pekerja tak penuh di dalam negeri masih sangat besar.
Menurut kriteria ILO, pekerja adalah orang yang bekerja lebih dari 35 jam per minggu. Sedangkan kriteria BPS menyebutkan, pekerja adalah orang yang bekerja lebih dari 1 jam per minggu. "Kalau ikut kriteria ILO, yang disebut pekerja di Indonesia hanya 78,86 juta orang," kata Enny kepada Tempo.


Dari jumlah itu, menurut Enny, pekerja formal hanya berjumlah 42,38 juta orang. "Nah inilah yang kita jumpai sehari-hari, realitas kehidupan pengangguran tinggi karena definisi BPS tak rasional," ujarnya.
Untuk pengembangan lapangan kerja ke depan, menurut Enny, ada tiga sektor yang harus difokuskan, yaitu industri, pertambangan, dan pertanian. "Sektor tradable yang menghasilkan barang pasti menyerap tenaga kerja," katanya. Pertumbuhan sektor industri yang masih di bawah pertumbuhan ekonomi sebesar 4 persen juga harus diantisipasi karena industri seharusnya jadi motor penggerak pertumbuhan.
Ekonom Center of Reform on Economics Indonesia, Hendri Saparini, mengusulkan peningkatan produksi pangan sebagai solusi untuk mengurangi tingkat pengangguran dan kemiskinan secara bersamaan. "Selain bakal menyerap tenaga kerja, peningkatan produksi pangan dapat menjaga inflasi dan daya beli masyarakat," kata Hendri beberapa waktu lalu.


Untuk mencegah terus naiknya angka pengangguran ini, terutama yang terimbas oleh kenaikan harga bahan bakar minyak bersubsidi, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, Andrinof Chaniago, mengatakan pemerintah akan berfokus mengoptimalkan penyebaran tiga kartu perlindungan masyarakat. "Juga akan ada pemberian pelatihan untuk masyarakat jika ada korban pemutusan hubungan kerja," ujarnya. PINGIT ARIA | TRI ARTINING PUTRI | MEGEL JEKSON | AISHA SHAIDRA

Sumber: Tempo.co