Berita

JAKARTA – Republik Indonesia (RI) tercatat memiliki garis pantai 54.716 kilometer atau terpanjang kedua di dunia setelah Kanada. Namun, kemampuan ekspor produk perikanan dan kelautan Indonesia masih kalah oleh negara-negara kecil di Asia Tenggara. ”Laut kita terpanjang kedua di dunia. Tapi, dari  segi  ekspor, kedudukan kita hanya nomor lima, bukan di dunia, tapi di kawasan Asia Tenggara. Ini sangat memalukan. Sebaiknya kita semua benar-benar serius untuk menata ini kembali supaya kita bisa menjadi nomor satu di ASEAN,” ujar Menteri Kelau- tan dan Perikanan Susi Pudjiastuti di Gedung Mina Bahari III kemarin (5/1).

Apalagi, kata Susi, Indonesia sebentar lagi memasuki era pasar tunggal Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang tepat untuk mendongkrak ekspor. Dengan menggalakkan ekspor produk perikanan dan kelautan, Susi yakin Indonesia bisa unggul atas negara-negara anggota ASEAN lainnya. ”Ikan kita selama ini banyak dicuri dan dibawa secara ilegal ke luar negeri,” sebutnya.

Hal itulah yang mengakibatkan ekspor produk perikanan dan kelautan Indonesia kalah jauh dibanding negara-negara tetangga. Dibanding Thailand, nilai ekspor Indonesia kalah jauh. ”Thailand memiliki luas laut yang jauh lebih kecil dibanding Indonesia. Tapi, Thailand ekspornya sepuluh kali lebih besar dari kita. Secara kasatmata itu sudah tidak benar dan harus diperbaiki,” tegasnya.

Padahal, lanjut Susi, Indonesia memiliki keunggulan sumber daya laut yang lebih melimpah daripada negara lain di ASEAN.  Dengan laut yang sangat luas, ditambah jumlah nelayan yang mencapai enam juta orang, tutur Susi, Indonesia seharusnya menjadi negara eksporter ikan terbesar di wilayah Asia Tenggara. ”Kita sebenarnya bisa menjadi nomor satu di ASEAN. Kita  punya enam  juta  nelayan dan laut yang luas,” tandasnya.

Dengan kebijakan moratorium izin kapal dan larangan transshipment (pemindahan muatan di tengah laut), Susi menilai sudah ada hasil yang baik. Setidaknya kini volume tangkapan nelayan kian meningkat. ”Kita akan terus berantas illegal fishing sehingga ke depan diharapkan dapat berdampak pada peningkatan pendapatan dan kesejahteraan nelayan,” katanya. Meski begitu, Susi berharap kebijakan tersebut diperkuat melalui instruksi presiden (inpres) anti-illegal fishing seperti yang dilakukan Presiden Amerika Serikat Barack Oba- ma pertengahan tahun lalu. (wir/c9/agm)

Sumber : JawaPos